Beranda | Artikel
Mengatasi Rasa Minder dan Kurang Percaya Diri pada Anak
10 jam lalu

Mengatasi Rasa Minder dan Kurang Percaya Diri pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Rabiul Akhir 1448 H / 06 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Mengatasi Rasa Minder dan Kurang Percaya Diri pada Anak

Minder dan kurang percaya diri merupakan kondisi kejiwaan yang dapat membawa dampak negatif. Meski faktor genetika turut memberi pengaruh dalam menumbuhkan perasaan tersebut, faktor lingkungan memegang peranan yang sangat dominan dalam memperbesar atau justru mengikis sifat ini.

Sebagai contoh, anak yang aktif bergaul dengan teman-temannya cenderung memiliki rasa minder yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang jarang bergaul. Anak yang kesulitan beradaptasi atau mengalami kendala komunikasi dengan lingkungan sekitar lebih rentan memunculkan rasa kurang percaya diri.

Melatih Keberanian dan Sosialisasi Anak

Anak dengan kecenderungan introvert sering kali sulit keluar dari sifat bawaan tersebut. Tugas orang tua dan pendidik adalah mengikis rasa minder serta kurang percaya diri agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berani. Sifat syaja’ah atau keberanian serta percaya diri perlu dimiliki oleh seorang muslim dan harus terus diasah seiring berjalannya waktu.

Salah satu langkah melatih keberanian adalah melibatkan anak dalam kegiatan sosial. Sikap orang tua yang terlalu protektif dan cemas berlebihan hingga mengurung anak di dalam rumah sangat tidak baik. Anak yang diisolasi tidak akan memiliki akses untuk berinteraksi sosial, tidak mengenal sesama, dan kehilangan kesempatan belajar memahami karakter orang lain.

Sebagai makhluk sosial, manusia pasti akan berurusan dengan sesamanya. Anak perlu dibiasakan berbaur dengan teman-temannya sejak dini. Mengingat adanya pengaruh positif dan negatif di lingkungan, orang tua berkewajiban mendampingi serta memilihkan lingkungan yang baik. Caranya dapat dilakukan dengan mengundang teman-teman anak ke rumah atau mengajaknya berkunjung ke kediaman kerabat dan teman agar ia mengenali beragam karakter manusia.

Membangun Kemandirian dan Keterampilan Komunikasi

Kurangnya interaksi sosial dapat menimbulkan rasa waswas dan ketidakpercayaan terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, anak perlu dididik agar mandiri secara personal dan tidak terus-menerus bergantung pada orang lain. Kesiapan menghadapi orang lain sangat penting karena kelak anak akan dewasa dan menjalani kehidupan rumah tangga. Anak yang memandang orang lain sebagai ancaman kerap merasa minder dan tidak siap menjalin relasi sosial, termasuk dalam pernikahan.

Rasa percaya diri dapat dipupuk dengan memberi anak kepercayaan dan tanggung jawab. Apabila anak lalai dalam menjalankan tugasnya, orang tua tidak perlu bersikap berlebihan atau marah, melainkan menjadikannya sebagai sarana latihan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar.

Selain tanggung jawab, anak perlu dibiasakan berbicara di depan umum agar mampu mengungkapkan isi pikirannya. Ketidakmampuan mengekspresikan diri sering menjadi pemicu timbulnya rasa minder. Keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya bertutur kata (natiq) dan berkomunikasi secara sempurna, sehingga keterampilan ini harus senantiasa dilatih.

Menjaga Mental Anak dan Menggali Potensi Diri

Kemampuan berbicara di hadapan orang banyak perlu dilatih tanpa menjatuhkan mental anak. Pendidik dan orang tua tidak boleh mengejek, merendahkan, atau menghina anak karena perlakuan tersebut merusak kepercayaan diri mereka. Setiap anak memiliki kekurangan, tetapi pembiasaan dan latihan menjadi tugas utama orang tua agar anak mampu mengungkapkan isi pikirannya.

Seseorang terkadang memiliki ide brilian, tetapi tidak mampu mengemukakannya di depan publik sehingga potensinya mandul dan tidak termanfaatkan secara maksimal. Setiap anak lahir dengan rezeki berupa bakat dan potensi. Tugas pendidik adalah mengeksplorasi, memunculkan, mengarahkan, dan mengembangkan bakat tersebut sebagai modal hidup yang bernilai positif.

Metode Dialog dan Tanya Jawab dalam Pembelajaran

Umar bin Khaththab mendidik anaknya, Abdullah bin Umar, untuk berani berbicara di hadapan majelis orang dewasa. Metode melontarkan pertanyaan kepada audiens merupakan cara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Al-Qur’an dalam menyampaikan ilmu guna merangsang daya pikir manusia.

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17)

Islam mendorong penganutnya untuk berpikir dan mencari jawaban, bukan menjadi pribadi yang malas atau sekadar ikut-ikutan. Di dalam majelis ilmu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering memancing para sahabat dengan pertanyaan. Meskipun para sahabat mengetahui jawabannya, mereka kerap menjawab “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui” karena memahami bahwa beliau hendak menyampaikan penjelasan baru.

Contoh metode ini tampak ketika hari Arafah, saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya mengenai hari, tempat, dan bulan berlangsungnya peristiwa tersebut. Pertanyaan-pertanyaan pemantik berguna untuk mengasah kemampuan berpikir para penuntut ilmu agar tidak sekadar menjadi pendengar pasif.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabat:

“Ada sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang muslim; ia memberikan buahnya setiap saat dengan izin Rabbnya dan daun-daunnya tidak pernah gugur. Tahukah kalian pohon apakah itu?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin Umar mengisahkan bahwa terlintas di dalam benaknya bahwa pohon yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah pohon kurma. Namun, karena merasa dirinya yang paling muda di majelis tersebut dan di sana hadir pula para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar, Ibnu Umar memilih diam. Para sahabat lainnya mengira pohon itu adalah pohon yang berada di pelosok atau pedalaman, padahal jawaban tersebut berada tepat di hadapan mereka karena lingkungan Madinah dipenuhi pohon kurma. Metode pertanyaan ini sengaja digunakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk melatih daya pikir para sahabat agar tidak sekadar menjawab secara dangkal.

Ketika para sahabat senior tidak memberikan jawaban, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa pohon perumpamaan seorang mukmin tersebut adalah pohon kurma. Sepulang dari majelis, Abdullah bin Umar menyampaikan kepada ayahnya bahwa ia sebenarnya telah mengetahui jawaban tersebut. Menanggapi hal itu, Umar bin Khaththab menyampaikan bahwa sekiranya sang anak menjawab pertanyaan tersebut saat di majelis, hal itu jauh lebih disukai olehnya dibandingkan mendapatkan kenikmatan duniawi berupa ini dan itu.

Memotivasi Anak untuk Berani Mengemukakan Pendapat

Sikap Umar bin Khaththab menunjukkan pentingnya orang tua memberi dorongan agar anak berani mengungkapkan ide, pendapat, dan potensi yang ada di dalam dirinya. Membaca dan menggali bakat anak memerlukan proses yang berkelanjutan agar orang tua dapat menyusun peta jalan pendidikan yang tepat. Dasar pendidikan anak harus diselaraskan antara kemampuan dan kemauannya. Menumbuhkan kemauan serta memetakan kemampuan anak bukanlah hal yang mudah, sehingga anak membutuhkan motivasi dari orang tua, salah satunya dengan membiasakan mereka hadir dalam majelis ilmu.

Menumbuhkan Jiwa Kompetitif untuk Mengatasi Rasa Minder

Menyertakan anak dalam berbagai perlombaan yang bermanfaat dapat menumbuhkan semangat dan daya saing. Kualitas seseorang akan terlihat ketika ia dihadapkan pada kompetisi. Tanpa jiwa kompetitif, anak cenderung pasif, tidak produktif, serta membiarkan potensinya terpendam. Kondisi ini berujung pada rasa minder. Sebagian besar anak yang minder sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi potensi tersebut tidak digali oleh pendidik sehingga anak merasa lemah dan tidak berdaya.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ … وَلَا تَعْجَزْ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah… Janganlah kamu merasa lemah (mudah menyerah).” (HR. Muslim)

Kebiasaan berkata tidak mampu sebelum mencoba akan menghambat tumbuhnya rasa percaya diri. Orang tua dan pendidik semestinya khawatir apabila meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah, sebagaimana peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An-Nisa [4]: 9)

Kelemahan generasi masa depan sering kali berpangkal dari ketiadaan latihan, pengembangan bakat, serta pengenalan potensi diri sejak dini. Tugas utama pendidik adalah terus memberikan dorongan dan motivasi. Mendidik dan mencetak generasi yang tangguh merupakan peluang besar bagi orang tua untuk menghasilkan karya nyata sebelum ajal menjemput.

Menghilangkan rasa minder sangat krusial agar anak mampu mengemban tanggung jawab hidup. Saat ini mulai marak fenomena anak yang tidak percaya diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Keengganan menikah tersebut bukan disebabkan ketidakmampuan fisik atau materi, melainkan perasaan minder dan ketidakyakinan mampu membina rumah tangga. Persoalan mentalitas anak ini merupakan masalah tersembunyi di tengah keluarga kaum muslimin yang patut segera diatasi.

Pentingnya Kajian Khusus Anak dan Lingkungan yang Positif

Masyarakat sering kali terjebak membicarakan hal-hal yang tidak relevan dengan permasalahan nyata kehidupan, sekadar untuk menghibur diri atau lari dari kenyataan. Padahal, berbagai persoalan pembinaan generasi sudah menyentuh akar rumput kaum muslimin, termasuk di kalangan masyarakat yang rajin menuntut ilmu.

Salah satu langkah nyata pembinaan adalah mengikutsertakan anak dalam berbagai perlombaan yang bermanfaat, disertai pendampingan dan dukungan penuh. Selain itu, kajian-kajian khusus anak perlu digalakkan agar mereka terbiasa hadir di majelis ilmu, berinteraksi dengan teman sebaya, dan tumbuh dalam lingkungan pergaulan yang positif.

Kajian untuk orang dewasa sudah sangat melimpah, sementara anak-anak pun membutuhkan wadah dan lingkungan tersendiri. Para dai muda yang baru lulus dapat mengambil peran membina kalangan muda, kampus, dan anak-anak sesuai dengan kapasitas dan kecocokan audiensnya.

Kajian anak sangat berbeda dengan sekadar membawa anak ke kajian orang dewasa. Ketika diajak ke kajian dewasa, anak cenderung bermain atau tidak fokus karena materi tersebut memang bukan ditujukan untuk mereka. Menyalahkan atau memarahi anak saat mereka berulah di kajian dewasa adalah tindakan yang keliru karena mereka tidak memahami materi yang dibahas.

Kajian yang dirancang khusus untuk anak membangkitkan antusiasme mereka karena materinya sesuai dengan dunia anak. Kehadiran kajian ini bukan perkara remeh, melainkan fondasi masa depan generasi Islam. Melalui komunitas yang baik dan keikutsertaan dalam perlombaan, anak yang memiliki kecenderungan tertutup dapat membuka wawasan sosialnya, belajar berteman, serta memiliki jiwa kompetitif yang sehat.

Bagaimana kajian lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Mengatasi Rasa Minder dan Kurang Percaya Diri pada Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56593-mengatasi-rasa-minder-dan-kurang-percaya-diri-pada-anak/